3 Hal Yang Buat Kamu Harus Nonton Film ''Green Book''

Film ''Green Book'' karya sutradara Peter Farrelly baru-baru ini menggemparkan dunia karena meraih banyak penghargaan, seperti memenangkan People''s Choice Award dan dinominasikan untuk 5 penghargaan di Golden Globe Awards yang kemudian berhasil memenangkan kategori Best Motion Picture - Musik atau Komedi. Buat kalian yang menanti film ini, ''Green Book'' segera ditayangkan mulai 30 Januari 2019 di bioskop-bioskop CGV Cinemas Indonesia. Selain banyaknya penghargaan yang diraih, berikut 3 hal yang buat kamu harus banget nonton film ini.


1. Bercerita Tentang Hubungan Hangat Kulit Putih dan Hitam Saat Diskriminasi Masih Kental di Amerika Serikat

Berlatar Amerika Serikat tahun 1960an, Dr. Don Shirley (Mahershala Ali) merupakan pianis jazz Afrika-Amerika yang tersohor. Pada kesempatan kali ini, dia harus melakukan perjalanan tur musik ke Deep South, bagian selatan Amerika. Pada masa tersebut, isu diskriminasi masih sangat kental di Amerika Serikat sehingga orang kulit hitam sering mengalami banyak gangguan dan tindakan berbahaya jika berjalan sendirian ke wilayah orang kulit putih. Dilatarbelakangi oleh hal ini, Dr. Don Shirley menyewa Tony Lip (Viggo Mortensen) seorang kulit putih sebagai supir pribadinya menuju wilayah Deep South. Di dalam perjalanan, mereka berhubungan hangat seakan tidak terdapat perbedaan di antara mereka. 


2. Tidak Melulu Soal Isu Berat, Tapi Juga Alunan Jazz Yang Menyenangkan

Jika kalian berpikir kalau film ini terlalu berfokus pada isu diskriminasi yang kental pada tahun 1960an di Amerika Serikat, kalian salah! Film ini juga menyajikan banyak canda tawa di antara Dr. Don Shirley dan Tony Lip. Film ini juga memperdengarkan banyak lagu jazz menarik dan nikmat didengar dari Dr. Don Shirley. 


3. Kehidupan Masing-Masing Karakter Yang Berbeda Dari Stereotipnya

Sebagai kulit hitam, Dr. Don Shirley dicap sebagai orang kelas bawah dan miskin, tetapi pada kenyataannya ia merupakan musisi termahsyur pada zamannya dengan karya-karya yang luar biasa. Sedangkan, Tony Lip yang notabene kulit putih justru melakukan pekerjaan kasar dan keras yang selama ini identik dengan stereotip orang kulit hitam.